Berita  

SALAM REDAKSI KETIKA KEADILAN DIJUAL: DOSA SUNYI BERNAMA SUAP*

Wahai Manusia yang memiliki Moral Dan Itegritas,janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap para hakim dengan harta itu untuk dapat memakan sebagian dari harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”_
_(QS. Al-Baqarah/2 : 188)_

Ada harta yang terlihat halal di tangan manusia, namun gelap dan tercela di sisi Allah.

Ayat ini tidak hanya melarang—ia membongkar. Membongkar penyakit hati yang sering bersembunyi di balik kecerdikan: mengambil yang bukan haknya dengan cara yang halus, rapi, bahkan tampak sah. Allah mengingatkan dengan tegas, *“janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil…”*—sebuah larangan luas yang mencakup setiap rupiah yang masuk tanpa ridha-Nya.

Namun, ayat ini menjadi jauh lebih tajam saat menyebut secara spesifik: *“dan (janganlah) kamu menyuap para hakim…”*

Di sinilah luka besar itu terbuka.

Ketika kebenaran bisa dibeli, keadilan bisa dinegosiasikan, dan hukum bisa diputar oleh uang—maka yang runtuh bukan hanya sistem, tapi nurani manusia itu sendiri. Suap bukan sekadar transaksi. Ia adalah pengkhianatan terhadap keadilan.

Ia menjadikan yang salah tampak benar.
Ia membungkam yang benar hingga tak bersuara.

Dan lebih menggetarkan lagi, Rasulullah ﷺ bersabda:

*“Allah melaknat pemberi suap dan penerima suap.”*
*(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)*

Ini bukan sekadar dosa biasa. Ini laknat—terusir dari rahmat Allah.

Bukan hanya yang memberi, bukan hanya yang menerima—tetapi seluruh rantai kezaliman yang terlibat di dalamnya ikut tercela. Karena suap bukan hanya merusak sistem hukum, tapi menghancurkan nilai kemanusiaan.

Lebih dalam lagi, suap adalah kerusakan jiwa.

Yang memberi suap sedang menjual kejujurannya.
Yang menerima suap sedang menjual amanahnya.
Dan keduanya—tanpa sadar—sedang menjual akhiratnya… untuk sesuatu yang fana.

Lalu Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang menampar kesadaran:
*“…padahal kamu mengetahui.”*

Inilah bagian paling berbahaya.

Ini bukan dosa karena tidak tahu.
Ini dosa dalam keadaan sadar.

Tahu itu salah—tetap dilakukan.
Tahu itu haram—tetap diambil.
Tahu itu dosa—tetap dinikmati.

Di titik ini, hati tidak lagi bergetar saat menyentuh yang haram.

Dan ketika hati sudah mati rasa, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Harta dari suap mungkin terlihat menambah kekayaan.
Namun sejatinya, ia mengikis keberkahan.

Ia bisa membangun rumah megah—
tapi meruntuhkan ketenangan di dalamnya.

Ia bisa memberi kenyamanan sesaat—
tapi mengundang hisab yang berat di akhirat.

Bayangkan… setiap rupiah yang kita peroleh akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana ia datang, dan ke mana ia dibelanjakan.

Tidak ada yang tersembunyi.
Tidak ada yang bisa disembunyikan.

Maka jagalah rezekimu.

Bukan hanya dari yang jelas haram,
tapi juga dari yang samar—yang sering menipu rasa aman.

Karena keberkahan tidak diukur dari banyaknya,
melainkan dari ridha Allah yang menyertainya.

Lebih baik sedikit tapi bersih,
daripada banyak tapi mengundang murka.

Dan ingatlah—

Keadilan di dunia mungkin bisa dibeli.
Namun keadilan di akhirat…
tidak pernah bisa ditawar.(@RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *