Berita  

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Aumannya Terdengar? Ujian Kritis Sang Pengkritik Kekuasaan

CAKRALENCANANEWS.COM JAKARTA
Masuknya Rocky Gerung ke dalam lingkaran kekuasaan membuka babak baru perjalanan intelektual yang selama ini dikenal lantang mengkritik pemerintah. Setelah bertahun-tahun berada di luar pagar kekuasaan, Rocky kini resmi menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Presiden Prabowo Subianto mengangkat 26 anggota Wantimpres melalui Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026. Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Nama Rocky Gerung tercantum sebagai salah satu anggota.

Perubahan posisi tersebut tentu menarik perhatian publik. Bukan semata karena Rocky kini memiliki akses langsung ke pusat kekuasaan, melainkan karena selama ini ia dikenal sebagai salah satu suara yang keras mengkritik kebijakan pemerintah.

Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana, tetapi penting:
Apakah seorang pengkritik akan tetap kritis ketika dirinya sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan?

Pertanyaan itu bukan tuduhan bahwa Rocky telah berubah.

Sebaliknya, justru menjadi tantangan yang harus dibuktikan melalui sikap dan kerja nyata.

Rocky sendiri langsung memberikan penegasan setelah pelantikan. Ia mengatakan Wantimpres memang memiliki fungsi untuk bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah.

“Kalau mengkritik, dewan ini justru fungsinya kritis, bukan kritik ya, beda tuh. Kritis terhadap kebijakan,” ujar Rocky seusai pelantikan.

Menurut Rocky, setiap kebijakan pemerintah dapat menimbulkan persepsi berbeda di masyarakat. Karena itu, Wantimpres harus mampu membaca persoalan secara lebih mendalam dan memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Ia juga menggambarkan Wantimpres seperti oversight committee dalam sebuah perusahaan. Namun karena berada dalam ruang publik, anggota Wantimpres dituntut memiliki kepekaan dan ketajaman dalam membaca persoalan masyarakat.
Di sinilah letak persoalan yang patut diperhatikan publik.

Kritik dari luar kekuasaan dan kritik dari dalam kekuasaan bukanlah situasi yang sama.

Ketika berada di luar, seorang kritikus memiliki kebebasan lebih besar untuk menyampaikan penilaian kepada publik. Namun ketika sudah menjadi bagian dari lembaga penasihat Presiden, ruang kerjanya berubah.

Sekretariat Negara menjelaskan bahwa Wantimpres bertugas memberikan saran, masukan, dan pertimbangan kepada Presiden. Ketua Wantimpres Pratikno menyebut seluruh kerja lembaga tersebut diarahkan kepada Presiden sebagai penerima manfaat utama.
Bahkan, Wakil Ketua Wantimpres Hatta Rajasa menegaskan bahwa isi nasihat yang diberikan kepada Presiden tidak dapat disampaikan kepada publik karena terdapat ketentuan kerahasiaan.
Kondisi tersebut melahirkan paradoks.

Publik selama ini mengenal Rocky melalui suara kritiknya yang terbuka. Kini sebagian dari tugasnya berlangsung di ruang yang justru tidak seluruh proses pertimbangannya dapat diketahui publik.

Maka ukuran keberhasilannya tidak lagi sekadar seberapa keras Rocky berbicara di depan kamera.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa tajam pertimbangannya ketika berada di meja kekuasaan.
Apakah ia akan menjadi suara yang mengingatkan ketika kebijakan pemerintah berpotensi menimbulkan persoalan?
Apakah ia akan menyampaikan kritik ketika kebijakan tidak sejalan dengan kepentingan publik?
Dan yang tidak kalah penting, apakah sikap kritis tersebut tetap dipertahankan ketika kritik itu harus disampaikan langsung kepada Presiden?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban.

Karena itu, publik sebaiknya tidak terburu-buru menyebut Rocky telah “jinak”, tetapi juga tidak perlu menganggap otomatis bahwa ia akan tetap sama seperti ketika berada di luar kekuasaan.
Waktu dan rekam jejak kerjanya sebagai Wantimpres yang akan membuktikan.

Rocky kini memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak harus berarti hilangnya daya kritis.
Jika sebelumnya kritiknya terdengar dari luar Istana, kini tantangannya justru lebih berat: bagaimana memastikan kritik tetap hidup ketika disampaikan dari dalam.
Sebab menjadi pengkritik ketika tidak memiliki kursi di meja kekuasaan relatif mudah.

Yang lebih sulit adalah tetap kritis setelah memperoleh kursi tersebut.
Di sinilah publik akan menunggu.
Bukan untuk mencari kesalahan Rocky.

Bukan pula untuk menjatuhkannya.
Melainkan untuk melihat apakah janji tentang sikap kritis benar-benar menjadi bagian dari kerja Wantimpres.

Jika Rocky mampu menggunakan posisinya untuk menyampaikan pertimbangan yang tajam, objektif, dan berpihak pada kepentingan publik, maka keberadaannya di lingkungan kekuasaan dapat menjadi ruang baru bagi kritik dari dalam.

Namun jika kritik hanya berhenti pada pernyataan tanpa terlihat dalam kualitas pertimbangan dan sikap kelembagaan, publik tentu memiliki alasan untuk mempertanyakan perubahan posisi tersebut.

Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi apakah Rocky Gerung masih bisa mengaum.

Persoalannya adalah apakah auman itu masih terdengar ketika pintu Istana sudah tertutup.

Sebab kekuasaan tidak selalu harus membungkam kritik.
Kadang kritik cukup didekatkan.
Kadang pengkritik cukup diberikan kursi.

Dan setelah kursi itu diberikan, sejarah akan mencatat satu hal:
Apakah singa tetap mengaum karena prinsip, atau justru terlalu nyaman di dalam kandang kekuasaan? Pungkasnya (@RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *