Cakralencananews.Com Jakarta
Jumpa pers Bareskrim yang menyatakan ijazah Jokowi asli tanpa memperlihatkan barang bukti asli justru membuat publik makin ciriga dan tak yakin. Bilang asli tanpa menunjukan fisik aslinya adalah kebodohan terbesar dalam pembuktian hukum. Publik yg bodohpun tak akan percaya, apalagi publik yang kritis.
Biasanya ketika Bareskrim merilis jumpa pers dengan awak media disertai dengan menunjukan barang bukti asli bukan tayangan video. Inilah yang membuat publik curiga dan tak percaya dengan pernyataan Bareskrim.
Kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan baru justru membuat rakyat emosi. Bangkai yang ditutup rapat akan kecium juga. Publik kecewa jika kasus dugaan ijazah palsu Jokowi ditutup hanya dengan pernyataan keaslian dari Bareskrim tanpa transparansi bukti yang terindikasi ingin melindungi mafia gerombolan pemalsu ijazah dan di sisi lain terindikasi ingin menghentikan langkah para pejuang kebenaran yang terus menuntut pengusutan tuntas dugaan ijazah palsu Jokowi dengan berbagai cara, termasuk degan kriminalisasi.
Rakyat menuntut Bareskrim transparan dan profesional dalam mengusut dugaan ijazah palsu. Jangan sampai hanya membela kepentingan gerombolan pemalsu ijazah lalu merusak semua sistem hukum.
Kebenaran harus tegak walaupun langit runtuh. Usut tuntas gerombolan pemalsu ijazah. Tegakan keadilan jangan pandang bulu. Presiden yang memalsukan ijazah harusnya dihukum lebih berat daripada lurah yang memalsukan ijazah karena dampak kejahatanya lebih dahsyat. Hancurnya negara dimulai dari sistem hukum yang dihancurkan oleh penegak hukum. Negara bisa hancur babak belur kalau hukum sudah dikendalikan gerombolan pemalsu ijazah.Pungkasnya (@RED**)












