Cakra Jakarta Oleh Prihandoyo Kuswanto.Ketua Pusat Study Kajian Rumah Pancasila.
Menonton kritik nya di titok Abraham Samad dan Eros Djorot budayawan menarik untuk menanggapi keadaan bangsa ini .
Dengan gaya seorang budayawan yang meminta penonton untuk memberi pendapat .
Saya mencoba memberi pendapat agar Eros Jarot itu juga bertanggung jawab keadaan Indonesia seperti hari ini Jangan Tinggal gelanggang corong payu.
Kalau kita melihat rekam Jejak budayawan Eros Jarot ,Gunawan Muhammad, Butet Kertarajasa,Pengamat Ikrar Nusa Bakti ,Eep Syaifulloh Fatal mereka inilah pendukung Pak Jokowi sehingga berkuasa hampir dua periode .Rupa nya hari ini mereka sudah pecah kongsi .
Mereka betul pecah kongsi bahkan berlawanan dengan Pak Jokowidodo ,tetapi mereka lupa bawah keadaan yang terjadi di negeri ini dengan model Demokrasi liberal dengan UUD 2002 mereka tidak merasa bersalah .Mereka ini semua nya pendukung UUD 2002 yang menghasilkan pemimpin seperti Jokowidodo dan yang akan dilanjutkan oleh Gibran Raka Buming Raka para budayawan ini mengkritik habis habisan Pak Jokowi tetapi mereka lupa bahwa hadir nya Pemimpin Jokowi itu karena kerja-kerja Eros Djarot,Gunawan Muhammad ,Butet Kartarejasa ,Ikrar Nusa Bakti ,dan Eep Syaifulloh Fatah sebagai tim pemenangan Pak Jokowidodo saat itu.
Sekarang Eros Jarot berceloteh tentang etik ,seperti paling punya etik di negeri ini .
mari kita mencoba membongkar demokrasi liberal yang ada di UUD 2002 yang mereka dukung .
Apakah MPR menganti UUD 1945 dengan UUD 2002 tanpa meminta persetujuan rakyat itu punya Etik ?
Apakah melakukan tindakan mencabut KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR IV/MPR/1983 TENTANG REFERENDUM. Tanpa meminta persetujuan rakyat karena agar mengganti UUD 1945 menjadi UUD 2002 adalah tindakan etik ?
Apakah membohongi rakyat UUD 2002 hasil amandemen masih dikatakan UUD 1945 adalah etik.
Apakah menghapus Bhinekatunggal Ika yang menjadi konfigurasi Unsur MPR dengan DPR ,Utusan utusan golongan dan utusan daerah diganti dengan satu golongan golongan partai politik adalah etik ?
Dengan diberlakukan nya UUD 2002 sama arti nya membubarkan negara yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 bubar.apakah tindakan ini etik ?
Dengan bubar nya Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 sama arti nya mencabut gelar Proklamator Soekarno Hatta.
Eros jarot sebagai budayawan dan tokoh nasionalis mengapa justru bersetubuh dengan neo liberalisme?
Mengapa semua itu hancur, sebab amandemen tidak hanya merontokkan lembaga MPR, tetapi sekaligus yang dirontokan aliran pemikiran tentang keIndonesiaan, menghilangkan sejarah, visi misi negara Indonesia diganti dengan visi misi Presiden, visi misi Gubernur, visi misi Bupati, Walikota. Akibatnya tujuan negara, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia telah dihilangkan apa menurut Eros Jarot hal ini tidak melanggar etik ?
Menghilangkan arti orang Indonesia asli atau Bangsa Indonesia asli dan mengganti Pancasila dengan Ultra Liberal.
Ketatanegaraan diganti dari sistem kolektivisme perwakian menjadi Presidenseil dengan basis individualisme Liberalisme banyak-banyakan suara ,dari demokrasi konsensus yang basisnya permusyawaratan perwakilan menjadi demokrasi mayoritas banyak-banyakan suara ,pertarungan kalah menang, kuat kuatan, kaya- kayaan. Akibatnya butuh pemilu dengan dana yang besar, maka lahirlah rentenir untuk membiyayahi calon Presiden, Gubernur, Walikota Bupati ,Anggota Dewan ,DPR,DPD,MPR ,butuh renternir sebagai Investor ,kemudian setelah mereka jadi maka sudah jelas tidak ada makan siang yang Gratis lahirlah oligarkhy ,semakin hari semakin tersandra jangan heran kalau 0,1% para bandar itu menguasai 70%lahan di republik ini ,juga jangan heran kalau segala aturan dan UU untuk kepentingan mereka sangat mudah sebab para rentenir pilpres ,Pilkada menagih janji pada saat mereka yang menang .
Bagaimana para budayawan yang dulu paling depan mendukung Jokowidodo sekarang meninggalkan nya .
Apa kalian Eros Jarot ,Gunawan Muhammad ,Butet Kertarejasa ,Eep Syaifullah Fatah ,Ikrar Nusa Bakti Apakah produk UUD 2002 yaitu Jokowisme bisa selesai dengan melengserkan nya ? Apakah cukup seperti itu bentuk pertangunggungjawaban moral dan etik nudayawan sekelas Eros Jarot ,Gunawan Muhammad ?
Sekarang ini gerakan terorganisir di kampus kampus guru besar ,sivitas akademika hanya mengumbar nafsu politik praktis bahkan ditumpangi kepentingan cawapres tertentu ,bukan politik kebangsaan yang harus nya disuarakan tetapi mereka tidak mengerti bawah model kepemimpinan Jokowisme adakah produk dari UUD 2002 .
Yang dasar nya adalah super Liberal sementara kita orang Indonesia masih berpegang pada nilai nilai ketimuran nilai nilai Pancasila adat istiadat dan agama.
Walaupun nilai -nilai Pancasila itu sudah di hilangkan sejak diberlakukan nya UUD 2002.Ideologi Pancasila itu sudah diamandemen .
Saya Yakin Eros Jarot seorang Nasionalis tulen saya rasa mengerti apa yang dipidatokan Soekarno di
BPUPKI Rapat besar pada tanggal 15-7-2605 dibuka Jam 10.20 mengatakan (cuplikan):
”Maka oleh karena itu jikalau kita betul-betul hendak mendasarkan negara kita kepada faham kekeluargaan, faham tolong menolong, faham gotong royong, faham keadilan sosial, enyakanlah tiap-tiap pikiran,tiap-tiap faham individualisme dan liberalisme daripadanya.“
Jadi mengapa pendiri negeri ini anti terhadap individualisme, liberalisme, kapitalisme, sebab semua itu sumber dari kolonialisme imperalisme yang menjadi dasar perjuangan bangsa ini untuk melawan dengan mengorbankan harta, darah dan nyawa.
Para pengamandemen UUD 1945 rupanya tidak memahami sistem yang mendasari UUD 1945, Akibatnya amandemen yang dilakukan telah merusak sistem bernegara dan bahkan menghancurkan tata nilai negara dengan tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Para pengamandemen UUD 1945 rupanya tidak memahami sistem yang mendasari UUD 1945, Akibatnya amandemen yang dilakukan telah merusak sistem bernegara dan bahkan menghancurkan tata nilai negara dengan tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sejak UUD 1945 diamandemen bukan saja menghabisi Ideologi Pancasila yang terdapat di dalam UUD 1945 yang berakibat hilangnya pedoman-pedoman pokok yang ada di Pembukaan UUD 1945.
Yang penulis heran mereka yang menyandang predikat budayawan justru nilai nilai Pancasila yang terkandung didalam kehidupan berbangsa dan bernegara di amandemen mereka diam dan mereka mendukung UUD 2002 yang super liberal yang menghasilkan kepemimpinan pak Jokowi .sekarang mereka menghujat dengan sumpah serapah pada Jokowi tetapi tidak berani mengoreksi sistem Demokrasi Super Liberal yang tanpa nilai ini.
Rupanya para Guru Besar,Aktivis perguruan tinggi ,pengamat Budayawan ,para cerdik pandai tidak cukup hanya membuat petisi yang bukan menjadi persoalan pokok bangsa hari ini .
Oleh sebab itu untuk menyelamatkan Negara Bangsa Indonesia tidak ada jalan lain kecuali kembali ke UUD1945 dan Pancasila jika bangsa ini ingin selamat.Pungkasnya (RED CL01)












