Cakra Jakarta
Kepanikan yang sangat hebat pasti akan melanda seluruh sendi koalisi yang dipersiapkan untuk “menyelamatkan” satu rangkaian gerbong kekuasaan Jokowi pasca lengser dari kekuasaan.
Betapapun, pasca penetapan pasangan Capres dan Cawapres 13 November 2023 nanti, segala bentuk terminologi-terminologi kuno yang selama ini dimainkan sebagai alat akrobatik politik seperti :
– Politik Identitas,
– Intoleran,
– Radikalisme,
– Anti Pancasila,
– Anti NKRI,
– Pro Khilafah, dan sejenisnya, termasuk manipulasi-manipulasi persepsi, survey berbayar, badai hoax, fitnah, dstnya, tak akan mampu lagi menahan gejolak suka cita rakyat yang gegap gempita, tumpah ruah menjemput datangnya semangat .
Lumpuhnya kekuatan tangan-tangan oligarki pada Pilpres 2024 nanti akan jauh melampaui ketidak berdayaan mereka di Pilkada DKI 2017 lalu saat mereka berusaha mendudukan Ahok pada kursi kekuasaan Ibu Kota NKRI.
Pilpres 2024 nanti akan menggelindingkan bola salju harapan rakyat yang jauh lebih dahsyat besar kekuatannya, bahkan dibandingkan dengan kencangnya putaran bola semangat Reformasi yang meruntuhkan kekuasaan orde baru Soeharto pada 1998 sekalipun.
Kutub kekuatan keagamaan dibawah organisasi besar keagamaan yang selama ini selalu dipropagandakan untuk dipisahkan dari politik, dipinggirkan dan diasingkan, kini oleh kekuasaan rezim dan oligarkinya ditarik-tarik, dirayu dan ditawari berbagai ‘nikmat kekuasaan’ agar mau mempengaruhi rakyat melepaskan seluruh harapannya menuntut keadilan, kesejahteraan hidup dan masa depan yang lebih baik.
Upaya-upaya terakhir tangan kekuasaan untuk menyatukan gabungan kekuatan koalisi Ganjar Pranowo dan Prabowo plus dinasti “Kerajaan Jokowi” demi melawan koalisi Anies dan Gus Imin juga menjadi bukti pertanda, bahwa kepanikan telah terjadi dalam kapal besar kabinet Jokowi yang sebentar lagi akan bersandar sekaligus mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukan dalam satu dasa warsa kekuasaanya.
Tentu saja ini adalah pertaruhan sekaligus pertarungan terbesar rezim berkuasa saat ini bersama dengan oligarki yang melindunginya melawan kekuatan rakyat yang merasa tertindas oleh ketidak adilan dan kedzaliman.
Bagi rakyat, ini adalah momentum terakhir menyatakan dengan artikulasi yang tegas akan kata “CUKUP”.
Cukup sudah mempermainkan perasaan rakyat.
Cukup sudah merampok aset dan kekayaan negara demi memperkaya diri sendiri.
Cukup sudah mewarisi beban bagi anak, cucu rakyat dengan tanggung jawab melunasi utang yang tak terkira besarnya.
Cukup sudah berhenti sampai disini seluruh rasa sakit dan penderitaan yang dirasakan rakyat.
“ sudah selama ini kami , dan di Pilpres 2024 nanti adalah saatnya kami ..!!.












