Media mainstream dan abal², akun² gede maupun akun recehan di medsos selalu menglorifikasi hasil survei Prabowo Gibran yang mereka katakan menjulang jauh di atas yang lain.
Apakah kita harus percaya?
Kita mungkin bisa menerka dengan melihat perilaku Jokowi, Presiden Indonesia sekaligus (paling tidak) pengusung cawapres 02 yang tak lain adalah anak kandungnya.
Sebagai Presiden, dia pasti punya akses ke sumber daya yang memungkinkannya memperoleh info valid soal pergerakan suara real di lapangan. Dia tahu betul bagaimana kondisi suara yang sesungguhnya.
Jika benar pergerakan suara 02 bagus, maka Jokowi tentunya tenang² saja. Tapi yang kita lihat justru Jokowi begitu reaktif, jauh dari sifatnya yang kita kenal selama ini.
9 tahun kita lihat Jokowi menghadapi serangan oplosan di berbagai isu yang diamplifikasi para buzzernya dengan begitu tenang dan mampu mengkonter dengan apik dan elegan.
Tapi belakangan ini bapaknya Samsul bereaksi begitu lebay, bahkan dalam menanggapi sebuah situasi di sebuah debat..
01 mempertanyakan pengadaan terkait alutsista dan “orang dalam”. 03 mempertanyakan anggaran Kemenhan yang tinggi tapi pencapaiannya malah makin jauh dari Minimum Essential Force. Bukankah itu subtantif?
Prabowo yang tak berbasis data dan hanya bermodal narasi² normatif, tidak konprehensif dan awut²an hanya bisa gelagapan atau ngumpet di balik sifat rahasia data pertahanan untuk semua yang tidak mampu dia jawab.
Yang konyol lagi, dipikirnya pertanyaan lawan dianggap seperti pertanyaan wartawan dan mengundang penanya untuk dijawab di forum lain..
Jokowi.., entah dalam kapasitas apa tetiba saja menuding debat berlangsung penuh dengan sindiran pribadi dan tidak substantif. Selanjutnya dia bahkan mengusulkan perubahan format untuk debat berikutnya.
Usulan pengubahan format ini diduga sebagai upaya penggiring opini publik agar menganggap bahwa yang buruk bukan Prabowo, tapi format debatnya (bahkan mungkin sekalian insinuasi terhadap 01 & 03).
Jika seorang Jokowi sampai lupa siapa dia hingga menurunkan level sebegitu rendahnya, ngulik urusan yang begitu teknis, artinya keadaan mereka tidak baik² saja.
Artinya Jokowi panik mengetahui bahwa debat itu telah membuat suara 02 makin rontok, posisi mereka makin gak aman.
Tindakan Jokowi lain yang jauh dari kata elegan adalah aksinya mem-bagi²kan sesuatu ke publik tepat di bawah baliho Prabowo di Banten.
Laku Jokowi yang kita maknai humble ketika blusukan untuk kepentingan rakyat harus kita sebut apa kali ini? Sekarang yang dia “perjuangkan” adalah kemenangan orang yang 2 kali ber-sama² kita tolak lantaran memang tak ada pantes²nya jadi pemimpin kita.
Mundur ke belakang, jika diperhatikan, perilaku tak wajar ini sudah cukup lama berlangsung. Misal setiap Ganjar berkunjung ke suatu daerah, tak lama kemudian Jokowi datang juga ke daerah itu. Lalu di acara Natal, dia manfaatkan juga untuk angkat 2 jari. Pertanyakan juga, ke mana RI-1 itu hari ini, hari ulang tahun PDI-P, partai yang sampai kemarin adalah rumahnya..
Terkait judul di atas, berbagai perilaku tak wajar Jokowi akhir² ini bisa kita maknai sebagai reaksi panik. Orang yang panik cenderung ceroboh.
Dalam konteks Pilpres, angka elektabilitas adalah segalanya. Ketika seorang yang seharusnya berdiri di tengah ikut terjun dengan mengorbankan semua kehormatannya lalu mendapati pihak yang diusungnya tak mampu mengambil hati rakyat, maka yang terjadi adalah kalap.
Menurut @ekokuntadhi1, Pak Jokowi yang dulu dikenal orang pandai memainkan catur politik, kini malah terkesan jadi pion, bergerak kesana kemari untuk menyelamatkan elektabilitas Prabowo.
Kutambahkan, Jokowi yang seharusnya nothing to lose sekarang tersandera langkah buruknya sendiri. Legacy megah 9 tahun, rusak karena berpihak ke manusia yang menurut Mas Diman adalah produk gagal yang dititipi pelanjut dinastinya.Pungkasnya (RED)












