CAKRALENCANANEWS.COM Harga minyak dunia mengalami penurunan pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi WIB, seiring munculnya laporan bahwa sejumlah kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah jenis Brent tercatat turun 2,8 persen atau sebesar 2,93 dollar AS menjadi 100,21 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat merosot lebih dalam yakni 5,3 persen atau sekitar 5,21 dollar AS menjadi 93,50 dollar AS per barel.
Penurunan harga tersebut dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan minyak global, setelah beberapa kapal tanker kembali beroperasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute energi paling strategis di dunia yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair global.
Analis pasar energi menyebut aksi jual di pasar minyak terjadi setelah laporan mengenai kembalinya aktivitas pelayaran di jalur tersebut, meskipun situasi keamanan kawasan masih belum sepenuhnya stabil.
”Pasar minyak sedang mengalami aksi jual setelah muncul laporan bahwa beberapa kapal tanker minyak mulai melintas di Selat Hormuz, sementara Presiden Donald Trump meminta bantuan untuk mengawal kapal tanker yang melewati jalur tersebut,” tulis analis Ritterbusch and Associates dalam catatan mereka.
Harga minyak Amerika Serikat juga turun lebih tajam dibandingkan Brent. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya produksi minyak mentah AS yang mendekati rekor serta tambahan pasokan dari impor minyak Venezuela.
Selain faktor pasokan, pasar juga merespons rencana pemerintah Amerika Serikat untuk melepas minyak dari cadangan strategisnya. Langkah tersebut diperkirakan akan menambah suplai di pasar global dalam waktu dekat.”
Tkanan harga juga muncul menjelang berakhitnya konflek berjangka WIT untuk pengiriman April yang diperdagangkan di New York Mercantile,Exckhange pada 20 Maret mendatang.
Mesti terkoreksi,harga minyak global masih berada pada level tinggi.Sejak pecahnya konflek Militer antara Amerika Serikat.Israel,dan Iran pada akhirnya Februari 2026.Harga Brent dan WTI sempat melonjak hampir 40 persen akibat kekwatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia
Disisi lain,pemerintah Amerika Serikat terus mendorong kerja sama internasional untuk menjaga keamanan jalur pelayaran diselat Hormoz agar distribusi minyak tetap berjalan.Namun hingga kini,sejumlah sekutu di Eropa belum menunjukan rencana untuk memperluas misi angkatan laut di kawasan tersebut
Smentara itu,Badan Energi Internsional (IEA).Menyatakan negara negara anggotanA siap kembali melepas cadangan minyak strategis apabila diperlukan untuk menstabilkan pasar energi global.
Ketegangan dikawasan Timur Tengah msih berpotensi memicu valatilitas harga minyak dalam wakzu dekat,terutama jika konflek militer berdampak pada stabilitas produksi atau jalur distribusi enwrgi di Wilayah zersebut.Pungkasnya (@RED/CL01)












