Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik
Entahlah, belakangan muncul orang-orang yang seolah-olah bijak memberikan nasehat. Katanya, tak penting membahas ijazah palsu Jokowi. Masih ada yang lain yang lebih penting.
Persis seperti Iblis yang sok bijak menasehati Adam dan Hawa untuk makan buah khuldi. Dalihnya, agar Adam dan Hawa kekal di Surga. Faktanya?
Tetapi setelah ditelusuri, dalam isu-isu lainnya yang penting orang-orang yang sok bijak ini juga tak hadir. Misalnya, di kasus kezaliman perampasan tanah rakyat Banten, perampasan tanah rakyat di Rempang, kasus Korupsi IKN, dan seterusnya.
Lisan dan tulisannya hanya tajam kepada orang-orang yang sedang berjuang bertaruh nyawa, membela bangsa dan rakyatnya, sesuai pandangannya, seperti dalam kasus ijazah palsu Jokowi. Lihatlah, sosok Rizal Fadilah dan Kurnia Tri Royani, juga Dr Rismon Hasiholan Sianipar, Dr Roy Suryo dan dr Tifa. Mereka, begitu gigih berjuang di kasus ijazah palsu Jokowi.
Mereka bukan cuma omon-omon. Mereka turun ke lapangan, bersama banyak elemen anak bangsa lainnya. Mereka, tidak cuma sibuk chating di GWA.
Tapi sayang, ada yang mendelegitimasi meniru gaya Irma Chaniago politisi NasDem yang dari dulu memang pendukung berat Jokowi. Ada juga, yang sok bijak, seolah dia sudah berjuang habis-habisan membela rakyat, lalu menganggap enteng perjuangan melawan kebohongan ijazah Palsu Jokowi.
Aktivis dakwah juga ada yang ikut taklid buta. Mendeligitimasi perjuangan melawan ijazah palsu Jokowi. Seolah-olah, Pemalsuan ijazah adalah aktivitas Ma’ruf.
Padahal, mereka juga menjadi korban kezaliman Jokowi. Dakwah yang mereka lakukan, di era Jokowi di represi.
Mereka, juga tak yakin ijazah Jokowi asli. Tak pernah melihat barangnya. Dan mereka, sebenarnya juga yakin Jokowi pembohong, sebagaimana telah dikenal publik.
Ada juga, sebagian orang yang meyakini ijazah Jokowi asli, meskipun tak pernah melihat juga tak pernah melakukan tes laboratorium forensik. Lalu, menganggap yang berjuang sebagai tak penting.
Dari sisi motif, tak penting perjuangan di apresiasi atau tidak. Karena berjuang, hanya untuk meraih ridlo Allah SWT. Hanya saja, bagi yang tak sependapat dengan perjuangan melawan ijazah palsu Jokowi, semestinya diam. Kalau pun bersuara, BERSUARA lah untuk mengungkapnya. Bukan mendelegitimasi perjuangan.
Kadang-kadang, untuk menutupi kepecundangan dan sikap hipokrit, menyepelekan perjuangan orang lain dianggap lebih hebat, ketimbang ikut bertarung bertaruh nyawa melawan kezaliman rezim Jokowi. Ingat! Ini bukan sekedar ijazah, melainkan ijazah yang dijadikan syarat Jokowi berkuasa dan melakukan kezaliman kepada rakyat Indonesia selama 10 tahun dan masih terus dilanjutkan hingga saat ini, meskipun secara de jure tidak lagi berkuasa. [].












