Cakralencananewa.Com Militer Turki jauhlebih neaar.Semwntara dibandingkan Militer Indonesia jumlahnya sangat minim.Mungkin sungguh-sungguh terjadi, ada orang mati berdiri sambil menyebut Jokowi. Saya mau cerita lebih serius. Di negara-negara maju, kekuatan tentara besar dengan banyak tujuan. Turki yang negaranya lebih kecil, jumlah tentara lebih banyak dari Indonesia.
Banyak tujuan militer, salah satunya diplomasi. Diplomasi di panggung depan tampak kalem dan penuh senyum. Di panggung belakang bisa saja “jambak-jambakan”. Militer dijadikan alat negosiasi.
Dalam konteks Indonesia, militer juga berfungsi untuk mengamankan kepentingan ekonomi. Diplomasi politik dan ekonomi, tentara negara harus kuat. Konon, sejak reformasi, kekuatan militer kita tanpa sengaja dilemahkan. Dengan kekayaan yang besar, terlalu naif jika kita tak perlu menguatkan militer dan senjata.
Untuk mengonsolidasikan tentara ini, kita tak ragu pemimpin sipil. Namun, konsolidasi militer lebih kuat di tangan pemimpin militer. Di zaman Prabowo, jumlah tentara insya Allah akan ditambah.
Seperti zaman Orde Baru, militer juga bisa untuk mempercepat pembangunan. Tak hanya sat-set saat bencana, tapi juga saat kondisi normal. Tentu, hal ini tak menyalahi amanat reformasi soal penghapusan dwi-fungsi ABRI. Zaman Orde Baru, kita mengenal ABRI Masuk Desa.
Soal perang, geopolitik tak menentu. Omong kosong menjaga kekayaan alam Indonesia tanpa kekuatan militer. Lebih baik memikirkan Indonesia kekuatan dunia daripada mati berdiri menyebut Jokowi.
Nah, tak ada buzzer bisa menulis panjang seperti ini.(HS, 18-2-2025).












